<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?> <rss
version="2.0"
xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
><channel><title>Siwan Belajar Adsense &#187; babad jawa</title> <atom:link href="http://www.siwan.web.id/tag/babad-jawa/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" /><link>http://www.siwan.web.id</link> <description>Blog yang ditulis oleh Siwan bapak-nya Putri Betha</description> <lastBuildDate>Wed, 19 Oct 2011 13:13:00 +0000</lastBuildDate> <language>en</language> <sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod> <sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency> <generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator> <item><title>Kisah Aji Saka &#8211; Babad Jawa</title><link>http://www.siwan.web.id/2011/04/kisah-aji-saka-babad-jawa/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=kisah-aji-saka-babad-jawa</link> <comments>http://www.siwan.web.id/2011/04/kisah-aji-saka-babad-jawa/#comments</comments> <pubDate>Wed, 13 Apr 2011 11:45:51 +0000</pubDate> <dc:creator>putri siwan</dc:creator> <category><![CDATA[Budaya jawa]]></category> <category><![CDATA[Pendidikan]]></category> <category><![CDATA[aji saka]]></category> <category><![CDATA[babad jawa]]></category> <category><![CDATA[Dan]]></category> <category><![CDATA[dengan]]></category> <category><![CDATA[kisah aji saka]]></category> <category><![CDATA[legenda aji saka]]></category><guid
isPermaLink="false">http://www.siwan.web.id/2011/04/kisah-aji-saka-babad-jawa/</guid> <description><![CDATA[Di Istana / Kratons Yogya dan Solo, serta beberapa bangunan atau situs dengan hubungan dekat dengan Kratons beberapa tanda ditulis dalam huruf Jawa dapat dilihat. Saat ini di beberapa bagian Jawa Tengah terutama di Yogya dan Solo, nama jalan ditulis dengan bahasa Latin dan huruf Jawa juga bus Kota &#34;Bis Kota&#34; Ini adalah langkah positif [...]]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Di Istana / Kratons Yogya dan Solo, serta beberapa bangunan atau situs dengan hubungan dekat dengan Kratons beberapa tanda ditulis dalam <strong>huruf Jawa</strong> dapat dilihat. Saat ini di beberapa bagian Jawa Tengah terutama di Yogya dan Solo, nama jalan ditulis dengan bahasa Latin dan huruf Jawa juga bus Kota &quot;Bis Kota&quot; Ini adalah langkah positif oleh masyarakat lokal untuk melestarikan warisan sastra kuno. <br
/>Bahkan di desa terpencil Pantaran, di lereng timur Gunung Merbabu, penduduk desa adalah melestarikan karakter Jawa dengan menulis nama mereka di pintu gerbang di depan rumah mereka. <br
/>Orang Jawa saat melihat karakter, secara spontan harus ingat <strong>legenda Ajisaka</strong> Kerajaan Medang Kamulan tanggal kembali 1930 tahun yang lalu. Untuk tahun 1997 adalah setara dengan Tahun Saka 1930.</p><p><a
href="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image8.png"><img
style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; margin: 0px 5px 0px 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb6.png" width="244" height="178" /></a></p><p>Pada dasarnya ada 20 karakter yang disebut Dentawiyanjana, yaitu <br
/>untuk dibaca:</p><p><a
href="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image9.png"><img
style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb7.png" width="244" height="77" /></a> <a
href="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image10.png"><img
style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb8.png" width="244" height="78" /></a> <br
/>Ada tambahan &quot;Sandangan&quot; (lit.) berarti &quot;Baju&quot; dengan suara: <br
/>i&#160;&#160;&#160; <a
href="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image11.png"><img
style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb9.png" width="244" height="40" /></a></p><p>u&#160;&#160; <a
href="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image12.png"><img
style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb10.png" width="244" height="29" /></a></p><p>é&#160; <a
href="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image13.png"><img
style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb11.png" width="244" height="36" /></a></p><p>o&#160; <a
href="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image14.png"><img
style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb12.png" width="244" height="27" /></a></p><p>ê&#160; <a
href="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image15.png"><img
style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb13.png" width="244" height="42" /></a></p><p><strong>Pangkon</strong></p><p><a
href="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image16.png"><img
style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb14.png" width="296" height="44" /></a> <br
/>Lit. berarti putaran.</p><p>Untuk dibaca Macan</p><p><a
href="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image17.png"><img
style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb15.png" width="103" height="47" /></a> <br
/>tanpa pangkon</p><p><a
href="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image18.png"><img
style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb16.png" width="103" height="36" /></a> <br
/>untuk dibaca Macana</p><p>Orang Jawa bercanda mengatakan bahwa pangkon adalah pembunuh efektif &#8211; untuk dibunuh di pangkuan seseorang, merasa besar, tetapi mati. Di Negara ini teori baru untuk memerintah orang lain lahir: <br
/>Jika Anda ingin mengalahkan seseorang, jangan menggunakan kekuatan, menempatkan dirinya di pangkuan Anda. Dia / Dia sadar harus menyerah dengan senang hati. <br
/>Surat-surat Jawa sebenarnya tidak hanya digunakan di Jawa Tengah dan Timur, tetapi juga digunakan di Jawa Barat mereka menyebutnya <strong>hanacaraka</strong>. Ini adalah bukti bahwa di masa kuno, orang-orang Jawa, di mana pun mereka tinggal di Barat, Tengah dan Jawa Timur, mereka memiliki satu dan budaya serupa. <br
/>Karena Jawa serta Sunda, (Jawa Barat) Bahasa ditulis dengan huruf latin, orang-orang kurang dan kurang bisa membaca dan menulis dengan hanacaraka. Di sekolah tidak ada pelajaran intensif menggunakan huruf. Situasi ini mengecewakan. Beberapa upaya harus diambil untuk memperbaiki situasi ini, mengingat fakta bahwa hanacaraka adalah bagian dari sastra Jawa, sastra Jawa Sastra, dan Sastra tidak berarti sastra saja, tetapi juga pengetahuan. Dan untuk Jawa, pengetahuan bukan berarti hanya pengetahuan biasa tetapi juga pengetahuan tentang kehidupan (kawruh). <br
/>The Legend of Aji Saka <br
/>Dalam Kerajaan Medang Kamulan, di Jawa, datang seorang yang bijaksana muda, dengan nama Aji Saka untuk melawan Dewatacengkar, Raja kejam The Negara yang memiliki kebiasaan makan daging manusia masyarakatnya sendiri. Aji Saka sendiri ia datang dari Bumi Majeti. Suatu hari dia mengatakan dua hamba, dengan nama Dora dan Sembodo, bahwa ia akan ke Jawa. Dia mengatakan kepada mereka bahwa sementara ia pergi, keduanya harus waspada pusaka / Pusoko. Tak seorang pun kecuali Aji Saka sendiri tidak diperbolehkan untuk mengambil Pusoko. Dalam pertempuran besar, Aji Saka berhasil bisa mendorong Dewata Cengkar jatuh ke Laut Selatan. Dewata Cengkar tidak mati, ia menjadi Bajul Putih (White Buaya). Aji Saka menjadi penguasa Medangkamulan. <br
/>Sementara itu seorang wanita desa Dadapan, menemukan telur. Dia meletakkan telur dalam Lumbung dia (Rice Barn). Setelah jangka waktu tertentu telur lenyap, bukan ular yang ditemukan di lumbung padi. Penduduk desa ingin membunuh ular, tetapi ular berkata: &quot;Saya anak Aji Saka, membawa saya kepadanya&quot;. <br
/>Aji Saka mengatakan kepada ular, bahwa ia akan diakui sebagai anaknya, jika ia bisa membunuh Bajul Putih di Laut Selatan. Setelah pertempuran badai panjang yang kedua belah pihak menunjukkan kekuatan phisycal dan menunjukkan kemampuan terampil pertempuran, ular bisa membunuh Bajul Putih. <br
/>Seperti yang telah dijanjikan ular itu diakui sebagai anak Aji Saka dan ia diberi nama Jaka Linglung (anak bodoh). <br
/>Di istana Jaka Linglung rakus makan binatang peliharaan istana. Dia dihukum oleh Raja, mengusir dia untuk tinggal di Rimba Pesanga. Dia erat bertali sampai ia tidak bisa menggerakkan kepalanya. Dia hanya diperintahkan untuk makan sesuatu yang jatuh ke mulutnya. <br
/>Suatu hari, sekelompok 9 (sembilan) anak laki-laki desa bermain-main di Jungle. Tiba-tiba terjadi hujan lebat. Mereka harus mencari tempat berlindung, untungnya ada sebuah gua. Hanya 8 (delapan) anak laki-laki masuk ke dalam gua, yang lain yang menderita penyakit kulit yang sangat buruk, menyengat dan kotor, ia harus tetap berada di luar gua. Tiba-tiba, gua runtuh, The 8 (delapan) anak laki-laki lenyap, hanya satu yang tinggal di luar itu aman. Gua sebenarnya adalah mulut Jaka Linglung.</p><p><strong>Arti simbolis dari Legenda Aji Saka</strong> <br
/>1. A Man dari Bumi Majeti. Majeti adalah akronim dari: <br
/>Ma = Ketrima (diterima) <br
/>Jet = Grenjet (keinginan tulus) <br
/>Ti = Pangesti (serius a berdoa) <br
/>Artinya: Seorang pria dengan keinginan tulus dan khusyuk berdoa diterima oleh Allah <br
/>2. Aji Saka ditemani oleh Dora dan Sembodo <br
/>Makna manusia sebagai makhluk Allah biasanya memiliki dua cara: <br
/>Bad Manners &#8211; Dora, Good Manners &#8211; Sembodo <br
/>3. Dia akan ke Jawa <br
/>Jawa: Seorang bijak yang selalu menyembah Allah, jadi dia selalu dilindungi oleh-Nya <br
/>Pusoko: Pusaka atau hal-hal kudus. <br
/>4. Medang Kamulan <br
/>Kamulan dari Mula &#8211; Awal <br
/>Tempat dimana orang menyembah Pencipta yang telah menciptakan awal kehidupan. <br
/>5. Wanita dari Desa Dadapan yang menaruh telur di gudang nya. Telur menghilang dan ular muncul. <br
/>Kalimat ini simbolizing bahwa seorang wanita dewasa bisa hamil, dalam rahimnya, maka bayi lahir. <br
/>6. Bayi / ular dibawa ke Aji Saka &#8211; ayahnya. <br
/>Artinya bahwa bayi harus diurus dengan baik oleh orang tuanya. <br
/>7. Anak itu bisa membunuh buaya putih dan nama Jaka Linglung (Stupid Boy) <br
/>Kalimat ini ingin menjelaskan bahwa: <br
/>Anak sebelum menjadi dewasa (21 tahun), ia adalah Linglung (bodoh) berarti ia bergantung dari orang tuanya. <br
/>Dia bisa membunuh buaya putih, anak itu menjadi seorang pria mandiri, mengurus hidupnya sendiri. <br
/>Dewata Cengkar: pria dewasa yang tidak memiliki kemampuan untuk mengurus hidupnya sendiri, ia masih mengganggu orang tuanya. <br
/>8. Jaka Linglung dibuang ke Rimba Pesanga, erat bertali sampai ia tidak bisa menggerakkan kepalanya, Melambangkan: <br
/>Dia harus mencari makanan sendiri dan kebutuhan, berarti dia harus bekerja. <br
/>Dia telah menggunakan kepala atau otak untuk memenuhi permintaannya. The Jungle dari Pesanga, Pesanga berarti 9 (sembilan). <br
/>Ia bisa bekerja di mana-mana di delapan arah Dunia, tapi ia selalu harus ingat satu hal, yaitu berkat dari Allah. <br
/>Tanpa ini, hal-hal yang mungkin salah <br
/>9. 9 (sembilan) desa anak laki-laki. Orang yang sakit dan kotor tidak diizinkan untuk masuk ke Gua <br
/>artinya: Semua kebutuhan hidup harus menjadi hasil dari pekerjaan keturunan yang baik, hal-hal yang kotor dilarang.</p><p>Para Simbolik Arti Dentawiyanjana (The 20 huruf) <br
/>Hanacaraka: Ada utusan (pasangan &#8211; pria &amp; wanita dari Tuhan Pencipta) <br
/>Datasawala: Mereka harus melakukan segala sesuatu atas instruksi nya. <br
/>Padajayanya: Keduanya adalah pemenang dengan status yang sama, mereka hidup harmonis saling mengasihi satu sama lain <br
/>Magabatanga: Mereka sepenuhnya melayani kehendak Allah. jiwa mereka dan tubuh milik Tuhan (Sumarah)</p><p><a
href="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image19.png"><img
style="border-bottom: 0px; border-left: 0px; display: inline; border-top: 0px; border-right: 0px" title="image" border="0" alt="image" src="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb17.png" width="311" height="111" /></a> <br
/>Ini melambangkan awal adanya kehidupan manusia, segalanya begitu suci. Hal-hal mulai berubah ketika tambahan huruf i, e, u, o, dll diperkenalkan. Surat-surat itu diberi nama &quot;sandangan&quot; (pakaian) dalam bahasa Jawa. <br
/>Anak-anak menjadi dewasa, mereka mulai merasakan kenikmatan sentuhan kulit ke kulit (hubungan seksual). Salah &#8211; perbuatan, kecurangan, berpura-pura, nafsu, ketamakan, kekejaman yang membawa penyakit dan bencana menjadi praktek umum. Banyak orang yang hanya mengembangkan perasaan kasar dari lima-indera melalui mata, hidung mulut, telinga dan kulit. Mereka lupa kehidupan murni, sehingga cahaya kehidupan menjadi kabur, tidak jelas. Manusia tinggal di tempat di mana ada cuaca dingin dan panas, ada kesedihan dan kebahagiaan. Untuk mencegah dosa lebih lanjut dan bencana, Peraturan Hidup (Paugeraning urip) diperkenalkan. Sehingga orang harus mengingat-Nya Pencipta dan berperilaku sesuai. Di antara hal lainnya adalah Peraturan Nikah, tanggung jawab keluarga, hubungan manusia dll <br
/>Seorang pria harus berdoa kepada Tuhan, itu berarti bahwa ia harus menyembah Allah dan bahwa ia harus perintah lima indera. <br
/>Seorang pria harus melakukan puasa kadang-kadang, itu perintah Allah, itu berarti bahwa ia harus mengendalikan lima indera. <br
/>Keinginan dari lima-indera harus ditujukan untuk melakukan hanya hal-hal yang positif bagi manusia itu sendiri dan orang lain. <br
/>The &#8216;sandangan&#8217; (pakaian) dari Dentawiyanjana adalah menggambarkan godaan jahat. <br
/>Seharusnya lebih mudah bagi pria mencari pemurnian hidup jika ia bisa membuang &#8216;sandangan&#8217; artinya untuk bebas dari godaan jahat. Istilah Jawa bagi filsafat ini adalah &#8216;Ngracut-Busono&#8217; (ngracut = untuk mengambil-off; Busono = baju). <br
/>Catatan: Dalam buku-menulis, huruf-huruf Jawa ditulis di bawah garis (bukan atas) dari kiri ke kanan. Melambangkan bahwa orang Jawa adalah orang-orang low profile. <br
/>Aji Saka <br
/>Kata-kata Aji Saka bisa berarti: <br
/>Aji = Raja / penguasa <br
/>Saka = Pilar rumah Jawa <br
/>Aji Saka adalah makna simbolis dari aturan pokok kehidupan. Ini bisa terjadi tidak hanya di Jawa, tetapi di tempat lain di dunia juga. <br
/>(Suryo S. Negoro)</p><p>sumber : http://www.joglosemar.co.id/hanacaraka/hanacaraka.html</p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.siwan.web.id/2011/04/kisah-aji-saka-babad-jawa/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>0</slash:comments> <media:thumbnail url="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb6.png" /> <media:content url="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb6.png" medium="image"> <media:title type="html">image</media:title> </media:content> <media:content url="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb7.png" medium="image"> <media:title type="html">image</media:title> </media:content> <media:content url="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb8.png" medium="image"> <media:title type="html">image</media:title> </media:content> <media:content url="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb9.png" medium="image"> <media:title type="html">image</media:title> </media:content> <media:content url="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb10.png" medium="image"> <media:title type="html">image</media:title> </media:content> <media:content url="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb11.png" medium="image"> <media:title type="html">image</media:title> </media:content> <media:content url="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb12.png" medium="image"> <media:title type="html">image</media:title> </media:content> <media:content url="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb13.png" medium="image"> <media:title type="html">image</media:title> </media:content> <media:content url="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb14.png" medium="image"> <media:title type="html">image</media:title> </media:content> <media:content url="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb15.png" medium="image"> <media:title type="html">image</media:title> </media:content> <media:content url="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb16.png" medium="image"> <media:title type="html">image</media:title> </media:content> <media:content url="http://www.siwan.web.id/wp-content/uploads/2011/04/image_thumb17.png" medium="image"> <media:title type="html">image</media:title> </media:content> </item> <item><title>Cerita Aji Saka / Babad Jawa</title><link>http://www.siwan.web.id/2009/11/cerita-aji-saka-babad-jawa/?utm_source=rss&#038;utm_medium=rss&#038;utm_campaign=cerita-aji-saka-babad-jawa</link> <comments>http://www.siwan.web.id/2009/11/cerita-aji-saka-babad-jawa/#comments</comments> <pubDate>Sat, 21 Nov 2009 10:01:27 +0000</pubDate> <dc:creator>putri siwan</dc:creator> <category><![CDATA[Budaya jawa]]></category> <category><![CDATA[Pendidikan]]></category> <category><![CDATA[aji saka]]></category> <category><![CDATA[ajisaka]]></category> <category><![CDATA[babad jawa]]></category> <category><![CDATA[bernama]]></category> <category><![CDATA[budaya]]></category> <category><![CDATA[cerita]]></category> <category><![CDATA[cerita aji saka]]></category> <category><![CDATA[cerita aji soko]]></category> <category><![CDATA[cerita ajisaka]]></category> <category><![CDATA[cerita bahasa jawa Ajisaka]]></category> <category><![CDATA[cerita rakyat]]></category> <category><![CDATA[Prabu]]></category><guid
isPermaLink="false">http://siwan.web.id/?p=71</guid> <description><![CDATA[Pada jaman dahulu, di Pulau Majethi hidup seorang satria tampan bernama Ajisaka.Selain tampan, Ajisaka juga berilmu tinggi dan sakti mandraguna. Sang Satria mempunyai dua orang punggawa, Dora dan Sembada namanya.]]></description> <content:encoded><![CDATA[<p>Pada jaman dahulu, di Pulau Majethi hidup seorang satria tampan bernama Ajisaka.Selain tampan, Ajisaka juga berilmu tinggi dan sakti mandraguna. Sang Satria mempunyai dua orang punggawa, Dora dan Sembada namanya. Kedua punggawa itu sangat setia kepada pemimpinnya, sama sekali tidak pernah mengabaikan perintahnya. Pada suatu hari, Ajisaka berkeinginan pergi berkelanan meninggalkan Pulau Majethi. Kepergiannya ditemani oleh punggawanya yang bernama Dora, sementara Sembada tetap tinggal di Pulau Pulo Majethi, diperintahkan menjaga pusaka andalannya. Ajisaka berpesan bahwa Sembada tidak boleh menyerahkan pusaka tersebut kepada siapapun kecuali kepada Ajisaka sendiri. Sembada menyanggupi akan melaksanakan perintahnya.<br
/> <code><span
id="more-71"></span></code><br
/> Ganti cerita, pada masa itu di tanah Jawa terdapat negara yang terkenal makmur, tertib, aman dan damai, yang bernama Medhangkamulan.Rajanya bernama Prabu Dewatacengkar, seorang raja yang luhur budinya serta bijaksana. Pada suatu hari, juru masak kerajaan mengalami kecelakaan, jarinya terbabat pisau hingga terlepas. Ki Juru Masak tidak menyadari bahwa potongan jarinya tercebur ke dalam hidangan yang akan disuguhkan kepada Sang Prabu. Ketika tanpa sengaja memakan potongan jari tersebut, Sang Prabu serasa menyantap daging yang sangat enak, sehingga ia mengutus Sang Patih untuk menanyai  Ki Juru Masak. Setelah mengetahui bahwa yang disantap tadi adalah daging manusia, sang Prabu lalu memerintahkan Sang Patih agar setiap hari menghaturkan seorang dari rakyatnya untuk santapannya. Sejak saat itu Prabu Dewatacengkar mempunyai kegemaran yang menyeramkan, yaitu menyantap daging manusia. Wataknya berbalik seratus delapanpuluh derajat, berubah menjadi bengis dan senang menganiaya. Negara Medhangkamulan beubah menjadi wilayah yang angker dan sepi karena rakyatnya satu persatu dimangsa oleh rajanya, sisanya lari menyelamatkan diri.  Sang Patih pusing memikirkan keadaan, karena sudah tidak ada lagi rakyat yang bisa dihaturkan kepada rajanya.</p><p>Pada saat itulah Ajisaka bersama punggawanya, Dora, tiba di Medhangkamulan. klawan punggawane, Dora, tumeka ing Medhangkamulan. Heranlah Sang Satria melihat keadaan yang sunyi dan menyeramkan itu, maka ia lalu mencari tahu penyebabnya. Setelah mendapat keterangan mengenai apa yang sedang terjadi di Medhangkamulan, Ajisaka lalu menghadap  Rekyana Patih, menyatakan kesanggupannya untuk menjadi santapan  Prabu Dewatacengkar. Pada awalnya Sang Patih tidak mengizinkan karena merasa sayang bila  Ajisaka yang tampan dan masih muda harus disantap Sang Prabu, namun   Ajisaka sudah bulat tekadnya, sehingga akhirnya iapun dibawa menghadap Sang Prabu. Sang Prabu tak habis pikir, mengapa orang yang sedemikian tampan dan masih muda  mau  menyerahkan jiwa raganya untuk menjadi santapannya.  Ajisaka  mengatakan bahwa ia rela dijadikan santapan sang Prabu asalakan ia dihadiahi tanah seluas ikat kepala yang dikenakannya. Di samping itu, harus Sang rabu sendiri yang mengukur wilayah yang akan dihadiahkan tersebut. Sang Prabu menyanggupi permintaannya. Ajisaka kemudian mempersilakan Sang Prabu menarik ujung ikat kepalanya. Sungguh ajaib, ikat kepala itu seakan tak ada habisnya. Sang Prabu Dewatacengkar terpaksa semakin mundur dan semakin mundur, sehingga akhirnya tiba ditepi laut selatan. Ikat kepala tersebut kemudian dikibaskan oleh Ajisaka sehingga Sang Prabu terlempar jatuh  ke laut. Seketika wujudnya berubah menjadi buaya putih. Ajisaka kemudian menjadi raja di Medhangkamulan.</p><p>Setelah dinobatkan menjadi raja Medhangkamulan, Ajisaka mengutus  Dora pergi kembali ke  Pulo Majethi menggambil pusaka yang dijaga oleh Sembada. Setibanya di  Pulo Majethi, Dora menemui Sembada dan menjelaskan bahwa ia diperintahkan untuk mengambil pusaka  Ajisaka. Sembada tidak mau memberikan pusaka tersebut karena ia berpegang pada perintah  Ajisaka ketika meninggalkan  Majethi. Sembada yang juga melaksanakan perintah  Sang Prabu memaksa meminta agar pusaka tersebut diberikan kepadanya. Akhirnya kedua punggawa itu bertempur. Karena keduanya sama-sama sakti, peperangan berlangsung seru, saling menyerang dan diserang, sampai keduanya sama-sama tewas.</p><p>Kabar mengenai tewasnya Dora dan Sembada terdengar oleh Sang Prabu Ajisaka. Ia sangat menyesal mengingat kesetiaan kedua punggawa kesayangannya itu. Kesedihannya mendorongnya untuk menciptakan aksara untuk mengabadikan kedua orang yang dikasihinya itu, yang bunyinya adalah sebagai berikut:)</p><table
border="1" cellspacing="0" cellpadding="0"><tbody><tr><td
width="48" valign="top"><p
align="center">HA</p></td><td
width="52" valign="top"><p
align="center">NA</p></td><td
width="41" valign="top"><p
align="center">CA</p></td><td
width="50" valign="top"><p
align="center">RA</p></td><td
width="52" valign="top"><p
align="center">KA</p></td></tr><tr><td
colspan="5" width="244" valign="top"><p
align="center"><span
style="color: #ff0000;">Ana   utusan <em>(ada utusan)</em></span></p></td></tr><tr><td
width="48" valign="top"><p
align="center">DA</p></td><td
width="52" valign="top"><p
align="center">TA</p></td><td
width="41" valign="top"><p
align="center">SA</p></td><td
width="50" valign="top"><p
align="center">WA</p></td><td
width="52" valign="top"><p
align="center">LA</p></td></tr><tr><td
colspan="5" width="244" valign="top"><p
align="center"><span
style="color: #ff0000;">Padha   kekerengan <em>(saling berselisih pendapat)</em></span></p></td></tr><tr><td
width="48" valign="top"><p
align="center">PA</p></td><td
width="52" valign="top"><p
align="center">DHA</p></td><td
width="41" valign="top"><p
align="center">JA</p></td><td
width="50" valign="top"><p
align="center">YA</p></td><td
width="52" valign="top"><p
align="center">YA</p></td></tr><tr><td
colspan="5" width="244" valign="top"><p
align="center"><span
style="color: #ff0000;">Padha   digdayané <em>(sama-sama sakti)</em></span></p></td></tr><tr><td
width="48" valign="top"><p
align="center">MA</p></td><td
width="52" valign="top"><p
align="center">GA</p></td><td
width="41" valign="top"><p
align="center">BA</p></td><td
width="50" valign="top"><p
align="center">THA</p></td><td
width="52" valign="top"><p
align="center">NGA</p></td></tr><tr><td
colspan="5" width="244" valign="top"><p
align="center"><span
style="color: #ff0000;">Padha   dadi bathangé <em>(sama-sama mejadi mayat)</em></span></p></td></tr></tbody></table><p><span
style="font-family: Verdana,Arial,Helvetica,sans-serif; color: #ff0000; font-size: xx-small;">Sumber       : http://siwan.web.id</span></p> ]]></content:encoded> <wfw:commentRss>http://www.siwan.web.id/2009/11/cerita-aji-saka-babad-jawa/feed/</wfw:commentRss> <slash:comments>1</slash:comments> </item> </channel> </rss>
<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic
Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 3/18 queries in 0.033 seconds using disk: basic
Object Caching 463/496 objects using disk: basic

Served from: www.siwan.web.id @ 2012-02-07 04:13:14 -->
